| Article Index |
|---|
| Harapan di Tengah Situasi Yang Tidak Diharapkan |
| 在絕望中的盼望 |
| All Pages |
“Harapan di Tengah Situasi Yang Tidak Diharapkan”
Pendahuluan:
Sejak kecil sampai dengan dewasa hidup kita dipenuhi berbagai pertanyaan. Sebagian orang hidup dalam keraguan, mengabaikannya dan terus melanjutkan hidupnya. Yang lainnya sinis dan keras hati. Sebagian lagi menolak pilihan-pilihan tersebut di atas dan terus bertanya, mencari jawaban.
Habakuk adalah orang yang terus mencari jawaban itu. Habakuk melihat dunia yang sekarat dan ini menyakitkan hatinya. Mengapa kejahatan menang dalam dunia ini & ia menyatakan protes kepada Allah dengan berani. Dari pergumulannya mencari jawaban Tuhan atas segala perkara yang terjadi di dalam kehidupannya, kita bisa belajar beberapa hal yaitu :
1. Keberanian untuk menyerahkan segala perkara kepada Tuhan(1:1-4, 12-17)
Habakuk mengasihi Allah dan membenci dosa. Dia membenci hal-hal yang dilihatnya terjadi di kalangan umat pilihan Allah. Dia sangat marah hingga sukar baginya untuk memahami apa sebabnya Allah tidak bertindak untuk mencegahnya. Habakuk menyatakan protes pada Allah, seolah ia berkata: ”Apakah maksud-Mu sebenarnya, Tuhan? Aku berseru kepada-Mu. Aku dapat melihat hal yang tak beres di sini. Kebenaran dan keadilan sedang dijungkirbalikkan, dan Engkau tidak berbuat apa-apa!” Akan tetapi di dalam keadaan yang demikian Nabi Habakuk tidak memilih pilihan-pilihan di atas, sebaliknya dengan yakin dan berani ia percaya dan menyerahkan setiap pergumulan kepada Tuhan secara langsung. Ketika Tuhan terlihat membisu, ia tetap berseru dan berdoa mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Tuhan dan mempercayakan semua pergumulannya kepada Tuhan agar Tuhan sendiri yang bertindak untuk mengatasi setiap persoalan dan pergumulannya. Dalam situasi yang sangat terjepit seperti itu, masihkah kita bisa percaya dan mempercayakan hidup dan pergumulan kita kepada-Nya?
2. Ketekunan untuk menanti jawaban Tuhan di tengah situasi yang tidak diinginkan (1:5-11; 2)
Seruan Habakuk di ayat 2, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar” menunjukkan bahwa seruan dan teriakkan Habakuk ini bukan hanya terjadi satu atau dua kali. Bahkan sampai terjadi pemerintahan yang baru - tetap tidak ada perubahan keadaan yang nyata, membuat Habakuk tidak berhenti untuk berseru kepada Tuhan. Allah meresponi pertanyaan Habakuk dan keadaan yang terjadi dengan tindakan-tindakan luar biasa yang mengejutkan Habakuk. Tuhan berkata kepada penduduk Yerusalem bahwa mereka akan heran & tercengang-cengang atas apa Allah lakukan (Hab. 1:6-11). Kejahatan menghancurkan dirinya sendiri, dan itu berada di luar kontrol Allah. Di sini kita bisa melihat bahwa Tuhan dapat menggunakan sesuatu yang tidak biasa untuk memperbaiki kita.
3. Keyakinan yang teguh kepada Allah yang berdaulat di tengah situasi yang mustahil (3:1-17)
Dalam pasal 3 ini kita melihat bahwa, Habakuk tahu Tuhan banyak berkarya bagi Israel pada waktu yang lalu, yaitu peristiwa Keluaran dari Mesir (Mzm. 77:12-20), pemberian tanah Kanaan (Mzm. 44:1-3), dan penghancuran musuh-musuh Israel. Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa Tuhan sanggup mengubah segala sesuatu dan memakai setiap peristiwa alam dan lainnya untuk menunjukkan kuasa dan kedaulatan-Nya. Dari peristiwa-peristiwa tersebut Habakuk juga percaya bahwa kejahatan tidak akan menang selamanya. Tuhan mengontrol semuanya dan IA dapat dipercaya sepenuhnya untuk membela orang-orang yang setia kepada-Nya. Habakuk menerima kehendak Tuhan dan tetap meminta pertolongan dan anugrah-Nya. Ia percaya bahwa Tuhan akan mendidik anak-anak-Nya dengan penuh kasih untuk membawa mereka kembali kepada-Nya.
Saudara, seberapa besar kita dapat tetap percaya Tuhan yang berkuasa & berdaulat menjadi pembela kita di tengah pergumulan berat yang menimpa kita? Seberapa berani kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya? Kita patut bersyukur, karena kita bisa dengan mudah dan leluasa mendengar dan membaca janji Tuhan untuk seluruh aspek hidup kita. Demikian juga dengan janji penyertaan dan pemeliharaan-Nya dalam pergumulan hidup kita di tahun yang lalu dan tahun 2012 ini yang akan kita jalani, mungkin semakin sulit. Belajar dari Habakuk, maukah kita tetap besabar menanti penggenapan janji Tuhan atas setiap pergumulan hidup kita, meskipun dalam masa-masa penantian itu kita harus menunggu dengan waktu yang panjang dan tanpa tanda-tanda yang bisa memberikan pengharapan pada kita? Mohon Tuhan terus menguatkan dan memampukan kita menjalani tahun 2012. Imanuel – Amin.
”
Pendahuluan:
Sejak kecil sampai dengan dewasa hidup kita dipenuhi berbagai pertanyaan. Sebagian orang hidup dalam keraguan, mengabaikannya dan terus melanjutkan hidupnya. Yang lainnya sinis dan keras hati. Sebagian lagi menolak pilihan-pilihan tersebut di atas dan terus bertanya, mencari jawaban.
Habakuk adalah orang yang terus mencari jawaban itu. Habakuk melihat dunia yang sekarat dan ini menyakitkan hatinya. Mengapa kejahatan menang dalam dunia ini & ia menyatakan protes kepada Allah dengan berani. Dari pergumulannya mencari jawaban Tuhan atas segala perkara yang terjadi di dalam kehidupannya, kita bisa belajar beberapa hal yaitu ;
1. Keberanian untuk menyerahkan segala perkara kepada Tuhan(1:1-4, 12-17)
Habakuk mengasihi Allah dan membenci dosa. Dia membenci hal-hal yang dilihatnya terjadi di kalangan umat pilihan Allah. Dia sangat marah hingga sukar baginya untuk memahami apa sebabnya Allah tidak bertindak untuk mencegahnya. Habakuk menyatakan protes pada Allah, seolah ia berkata: ”Apakah maksud-Mu sebenarnya, Tuhan? Aku berseru kepada-Mu. Aku dapat melihat hal yang tak beres di sini. Kebenaran dan keadilan sedang dijungkirbalikkan, dan Engkau tidak berbuat apa-apa!” Akan tetapi di dalam keadaan yang demikian Nabi Habakuk tidak memilih pilihan-pilihan di atas, sebaliknya dengan yakin dan berani ia percaya dan menyerahkan setiap pergumulan kepada Tuhan secara langsung. Ketika Tuhan terlihat membisu, ia tetap berseru dan berdoa mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Tuhan dan mempercayakan semua pergumulannya kepada Tuhan agar Tuhan sendiri yang bertindak untuk mengatasi setiap persoalan dan pergumulannya. Dalam situasi yang sangat terjepit seperti itu, masihkah kita bisa percaya dan mempercayakan hidup dan pergumulan kita kepada-Nya?
2. Ketekunan untuk menanti jawaban Tuhan di tengah situasi yang tidak diinginkan (1:5-11; 2)
Seruan Habakuk di ayat 2, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar” menunjukkan bahwa seruan dan teriakkan Habakuk ini bukan hanya terjadi satu atau dua kali. Bahkan sampai terjadi pemerintahan yang baru - tetap tidak ada perubahan keadaan yang nyata, membuat Habakuk tidak berhenti untuk berseru kepada Tuhan. Allah meresponi pertanyaan Habakuk dan keadaan yang terjadi dengan tindakan-tindakan luar biasa yang mengejutkan Habakuk. Tuhan berkata kepada penduduk Yerusalem bahwa mereka akan heran & tercengang-cengang atas apa Allah lakukan (Hab. 1:6-11). Kejahatan menghancurkan dirinya sendiri, dan itu berada di luar kontrol Allah. Di sini kita bisa melihat bahwa Tuhan dapat menggunakan sesuatu yang tidak biasa untuk memperbaiki kita.
3. Keyakinan yang teguh kepada Allah yang berdaulat di tengah situasi yang mustahil (3:1-17)
Dalam pasal 3 ini kita melihat bahwa, Habakuk tahu Tuhan banyak berkarya bagi Israel pada waktu yang lalu, yaitu peristiwa Keluaran dari Mesir (Mzm. 77:12-20), pemberian tanah Kanaan (Mzm. 44:1-3), dan penghancuran musuh-musuh Israel. Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa Tuhan sanggup mengubah segala sesuatu dan memakai setiap peristiwa alam dan lainnya untuk menunjukkan kuasa dan kedaulatan-Nya. Dari peristiwa-peristiwa tersebut Habakuk juga percaya bahwa kejahatan tidak akan menang selamanya. Tuhan mengontrol semuanya dan IA dapat dipercaya sepenuhnya untuk membela orang-orang yang setia kepada-Nya. Habakuk menerima kehendak Tuhan dan tetap meminta pertolongan dan anugrah-Nya. Ia percaya bahwa Tuhan akan mendidik anak-anak-Nya dengan penuh kasih untuk membawa mereka kembali kepada-Nya.
Saudara, seberapa besar kita dapat tetap percaya Tuhan yang berkuasa & berdaulat menjadi pembela kita di tengah pergumulan berat yang menimpa kita? Seberapa berani kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya? Kita patut bersyukur, karena kita bisa dengan mudah dan leluasa mendengar dan membaca janji Tuhan untuk seluruh aspek hidup kita. Demikian juga dengan janji penyertaan dan pemeliharaan-Nya dalam pergumulan hidup kita di tahun yang lalu dan tahun 2012 ini yang akan kita jalani, mungkin semakin sulit. Belajar dari Habakuk, maukah kita tetap besabar menanti penggenapan janji Tuhan atas setiap pergumulan hidup kita, meskipun dalam masa-masa penantian itu kita harus menunggu dengan waktu yang panjang dan tanpa tanda-tanda yang bisa memberikan pengharapan pada kita? Mohon Tuhan terus menguatkan dan memampukan kita menjalani tahun 2012. Imanuel – Amin.


